Jumat, 17 Februari 2017

IRONI



Damai,
Kedamaian ini begitu busuk...
Seru orang – orang yang merindu
Rindu akan heroisme
Rindu akan kepahlawanan
Rindu dentuman bom
Rindu teriakan – teriakan dari
orang – orang tak bersalah

Ironi,
Memang hidup sebuah ironi...
Untuk apa merindu ?
Pada peperangan yang membuat
sendu
Untuk apa merindu ?
Pada kota – kota yang tertutup abu

Damai,
Kedamaian ini begitu busuk...
Seru orang – orang yang kehausan
Haus akan kekuasaan
Haus akan kekayaan
Haus ekspansi
Haus ideologi

Ironi,
Memang hidup sebuah ironi...
Untuk apa setelah itu menangis ?
Jika mereka yang inginkan dunia
bengis
Untuk apa setelah itu menangis ?
Jika mereka yang inginkan kisah
tragis

-------------------------------------------------------------

Oke guys. Guru sejarah gue ada – ada aja. Beberapa hari yang lalu gue disuruh bikin puisi tapi harus ada sangkut pautnya sama perang dunia. Gue puyeng banget mikirnya, tapi akhirnya jadilah puisi ini. Nah disaat anak – anak laen bikin puisi sesuai contoh, like “kuasamu terhadap hatiku seperti Hitler berkuasa di Jerman, totaliterisme”, gue malah bikin puisi yang bener bener serius. Au dah yak, mungkin gue terlalu mendramatisir (?). But I like the result tho, hehee. 

Rabu, 15 Februari 2017

RINDU



Kalau boleh sekali lagi ku lihat dirimu,
Ingin sekali aku

Karena ku rindu

Sampai pilu
Sampai hari jadi biru

Karena ku rindu

Sampai kelu
Sampai langit jadi abu - abu

Namun, bodohnya aku

Pantaskah ku merindu
Jika bahkan senyummu
Menghilang karenaku

Pantaskah ku merindu
Jika bahkan sendumu
Diciptakan olehku

Kalau boleh sekali lagi ku lihat dirimu,
Ingin sekali aku

Namun hari selalu menjadi baru
Tak pernah terhenti waktu
Mengubur kisah lama yang kelabu