Selasa, 22 Desember 2015

Seruan Serdadu Berputih Abu - Abu



Dengan doa dalam tiap langkah,
Kami menyongsong hari
Bersiap meraih mimpi

Kami adalah para serdadu
Ya, kamilah serdadu berputih abu - abu

Kami tanamkan benih semangat di dalam hati
Yang jika dibiarkan tumbuh,
Kan menembus awan, menjulang tinggi

Kami punya mimpi
Yang jika tak dihentikan,
Akan jadi sesuatu yang tak bisa disebut angan - angan lagi

Kami punya tekad bagai besi
Yang jika terus ditempa,
Akan menjadi senjata yang sakti

Kami bergegas medan perang,
Berupa ruang kelas yang penuh dengan kemungkinan
Tak lupa kami siapkan amunisi,
Berupa pena dan ilmu yang telah diterima
Kami kan hadapi rintangan,
Berupa carik - carik kertas pertanyaan

Ini seruan kami !
Kami para serdadu berputih abu - abu
Tak kan gentar hadapi lawan
Kan terus menerjang segala rintangan
Kami akan terus berlari,
Menuju tujuan
Kami tak akan berhenti
Tak ada yang bisa membuat kami letih

Ini seruan kami !
Serdadu - serdadu kecil ini,
Dengan segala doa yang tercurahkan,
Usaha yang telah dilakukan,
Dan keringat yang bercucuran,
Kami akan meraih kejayaan

Ini seruan kami !
Serdadu - serdadu mungil ini,
Bangga berperang
Dengan berputih abu - abu,
Kami akan menang
Ya, kami akan menang


Selasa, 15 Desember 2015

KARTINIKU



Kartiniku...
Telah berlalu masa yang kelam itu
Karena dirimu begitu berpijar,
Membawa semangat yang membara, dan cahaya
Yang menuntun kaummu dari kegelapan, menuju titik terang

Kartiniku...
Hampir seabad telah terlewati
Tetapi deru perjuanganmu terasa hingga kini
Menciptakan perubahan,
Membentuk jiwa - jiwa Kartini yang baru

Kartiniku...
Janganlah lagi bersedu sedan
Kaummu tak lagi seperti dulu
Tak hanya jadi bunga yang hiasi taman
Tak sekedar jadi perhiasan
Tak hanya terseret arus, tetapi ikuti suara hati
Tak sekedar terbawa badai, tetapi ikuti tekad dan mimpi

Kartiniku...
Janganlah kau hilangkan senyummu
Kaummu tak lagi seperti dulu
Sekarang, kaummu jadi benih yang kan tumbuh menyejukkan bumi
Jadi kayu bakar untuk hangatkan malam hari
Jadi batu bata untuk membangun negeri
Jadi tiang - tiang penyangga untuk jembatan menuju kejayaan pertiwi

Kartiniku...
Janganlah engkau bersedih hati
Lihatlah kaummu telah mandiri
Bertahan di tengah dunia yang hiruk pikuk ini

Kartiniku...
Jangan biarkan air matamu berlinang lagi
Karena kaummu telah berjanji
Menjaga segala yang kau beri
Menghargai perjuangan yang telah tertandai
Menjalankan emansipasi

==============================================
*** Special edition ( sekali - kali nasionalis )***

Kamis, 12 November 2015

HUJAN



Apa hujan bagimu ? 
Hanya rintik - rintik air yang turun ke bumikah ?
Bagaimana rintik - rintik itu terasa ?
Apa jadi penyejuk rasa yang berapi - api ?
Atau jadi pembawa kedamaian saat sendiri...

Apa hujan bagimu ?
Hanya air yang membasahi segalanyakah ?
Bagaimana air itu terasa ?
Apa pembawa kebahagiaan..hingga kau berlari ke tengahnya, tertawa, melupakan segala beban yang kau punya ?
Bagaimana air itu terasa ?
Apa pertanda kesedihan..hingga kau kira, air hujan itu adalah air matamu yang berjatuhan...

Apa hujan bagimu ?
Hanya sesuatu yang akan berlalukah ?
Lalu bagaimana sesuatu itu mengingatkanmu akan kenangan ?
Apa pengingat saat salah satu tangannya menggenggam tanganmu, dan satunya lagi memayungimu ?
Lalu bagaimana sesuatu itu mengingatkanmu akan kenangan ?
Apa pengingat saat kau menyentuh jendela kaca yang berembun ? Apa saat kau kehujanan dan tiba - tiba saja ditinggal sendiri, terasing, dan sepi  ?

Ya..hujan
Hujan tak punya cerita, hujan hanya turun menyapa dunia. Tetapi kita punya cerita...kita punya ! 
Karena itu, kita melihat hujan dengan cara yang berbeda - beda
Ya..manusia selalu punya cerita...
Dan hujan..akan selalu ada, menjadi pembawa kenangan yang tak diduga

Minggu, 25 Oktober 2015

MIMPI



Langit terus menerus membuat ku tak bergeming darinya
Ia berhias mentari..awan teduh..kemudian bulan..lalu bintang - bintang nan indah yang membuat hari jadi sempurna, tak ada cela..namun,
Bangun ! Kau tak akan percaya apa yang ku lihat..bahkan aku tak tahu langit itu seperti apa. Apa biru ? Apa jingga ? Aku tak tahu ! Hanya ada kabut yang mengelilingi

Kupu - kupu menarikku menuju taman...
Yang kudengar hanya gemerisik pepohonan yang menenangkan jiwa,
Yang kucium hanya wewangian bunga - bunga, yang ku lihat hanya rumput hijau yang tergelar..aku berlari..berlari menuju rumput itu, merasakan embun membasahi telapak kakiku, aku bernyanyi..bernyanyi hingga ku tak sanggup lagi mengeluarkan suara,namun
...Ayolah buka matamu ! Seperti apa bunga yang mekar itu ? Yang kulihat bunga - bunga itu lemas dan layu..tanah yang kering, dan kesedihan yang merambat dari suasana suram itu

Ia menggenggam tanganku..meletakan mahkota bunga di atas rambutku dan membisikkan kata - kata semanis madu, kata - kata itu berterbangan..tertiup angin, lalu masuk ke dalam telingaku, membuatku merasa akulah yang paling berharga dalam hidupnya. Kami tertawa bersama, berdansa...berputar..berputar..dan terus berputar dalam kegembiraan hingga lelah menghampiri
Kami bahagia...namun...
Astaga ! Aku tak ingat kapan terakhir kali itu terjadi ! Ia sudah lama pergi ! Kemana ia ? Aku tak tahu lagi...

Memang semua hanyalah mimpi...hanya sesuatu yang semu dan tak benar - benar terjadi, sesuatu yang tak dapat digapai lagi...

Mengapa sebelum pejamkan mata, orang - orang berdoa agar mendapat mimpi yang indah ?
Aku benci mimpi indah ! Hanya mengingatkanku pada hal - hal yang dulu pernah ada, atau hal yang tak bisa ku lihat dengan nyata...justru,
Aku selalu berharap mendapat mimpi buruk..agar saat ku terbangun, aku akan melihat indahnya kenyataan...atau setidaknya hal yang tak menyakitkan

Mimpi...mengapa itu terjadi ?
Mimpi...setidaknya jika mimpi ada, jangan biarkan itu membuatku jatuh dalam kenangan atau luka lama..

Mimpi, aku tetap membencinya

Rabu, 14 Oktober 2015

MENGAPA MEMILIH



Mengapa engkau memilih sepi ?
Mengapa memilih tundukkan diri ?
Padahal telah kudendangkan suatu rangkaian nada...
Ditambah alunan merdu rintik - rintik hujan, dan dentuman menenangkan dari debur ombak

Mengapa engkau memilih bersedih hati ?
Mengapa memilih mengeluarkan air mata ?
Padahal telah ku bawa engkau ke sana, ke tempat dimana kita berputar - putar dalam kegembiraan hingga lelah...
Tak ada lagi celah rasa itu untuk kembali

Mengapa engkau memilih derita ?
Mengapa memilih nista ?
Padahal telah ku beri engkau tanganku
Yang jika digenggam, engkau hanya akan tahu apa itu bahagia

Mengapa engkau memilih luka ?
Mengapa kau biarkan saja lukamu ?
Padahal telah ku bawa perban untuknya,
Yang jika kau biarkan ada di sana...
Akan membuatmu seperti sedia kala

Mengapa engkau memilih berpura - pura buta ?
Mengapa pejamkan mata ?
Padahal telah ku tarik pelangi ke hadapanmu...
Buka saja matamu...tak ada lagi bayangan kabur itu...
Lupakan semua hal yang telah kau lihat dan terasa mencabikmu

Mengapa engkau memilih tak berpaling ?
Mengapa tak bergeming ?
Padahal telah ku beri engkau sesuatu yang baru...namun...
Apa rasa itu masih saja memelukmu ?
Hingga sulit membuka hati bagiku...

Mengapa engkau memilih melihat ke belakang ?
Mengapa tak melihatku saja ?
Padahal aku ada di sini, bersiap jadi sayap untuk membawamu ke tempat - tempat terindah di dunia...menembus awan...menghantam angin

Mengapa engkau masih bertanya ?
Mengapa kau ragu ?
Padahal akulah jawaban yang engkau cari dan engkau sembunyikan secara bersamaan...
Padahal telah ku ucap padamu,
Jika aku ada di sini,
Engkau tak akan tahu apa itu pedih

Sabtu, 10 Oktober 2015

Dalam Cerita



Akankah dunia menerimaku ?
Aku tidaklah licik, aku tidak ingin merebut mahkota dari tuan putri...atau berniat meracuninya untuk mendapatkanmu

Akankah dunia menerimaku ?
Aku tidaklah berhati busuk seperti penyihir - penyihir itu...atau mengirim kutukan pada apa yang telah menyakitiku

Akankah dunia menerimaku ?
Aku tidaklah penuh kebencian yang membara...atau bisikan rasa dendam yang berdentum - dentum di telinga

Akankah engkau menatapku ?
Aku tidaklah berwajah merona...atau memiliki sepasang mata biru yang berbinar - binar

Akankah engkau menatapku ?
Aku tidaklah memiliki pesona...atau memakai gaun berwarna seperti burung merak

Akankah engkau menatapku ?
Aku tidaklah dianugerahkan suatu kegemerlapan saat ku berjalan..atau kaki indah yang dihiasi sepatu kaca

Dalam cerita...
Gadis baik selalu mendapat akhir yang bahagia, yang kejam akan sengsara...
Namun ada satu hal yang ku lupa...
Dalam cerita, untuk mendapat seorang pangeran, tak cukup untuk menjadi baik hati...butuh wajah seperti ukiran yang sempurna...bahkan pangeran lebih memilih Cinderella daripada saudarinya yang buruk rupa...

Dalam dunia nyata,
Sama seperti cerita...
Aku tak bisa menggapaimu

JAM PASIR



Jam pasir itu terus bergerak
Tak ada lagi yang bisa menghentikannya
Pasir - pasir putih halus itu sangat cepat merambat..dari satu tempat ke tempat lainnya

Pasir - pasir itu berhenti bergerak
Menimbulkan kesunyian dan kegetiran
Pentanda waktu perpisahan

Jam pasir kita memang lama untuk berhenti
Tetapi terasa sangat tergesa - gesa
Seperti menjalaninya detik - detik yang lalu

Denganmu, waktu sangat cepat berlalu
Hingga tak tahu waktu memisahkan kita
Hanya jam pasir itu yang mengetahuinya
Kita akan biarkan jam pasir itu terdiam sementara
Dan menunggu kapankah jam itu diputarbalikkan 
Agar ia bergerak kembali

Kita memang akan terpisah,
Karena pasir - pasir itu berhenti..
Aku hanya ingin mengetahui...
Bisakah aku hancurkan saja jam pasir itu ?
Agar kayunya terpatah - patah
Agar kacanya terbelah - belah
Agar pasirnya terhampar lemah

Dengan itu...
Mungkin saja aku dapat bersama selamanya
Dengan itu...mungkin saja kita abadi
Hidup, bersama dengan segala serpihan - serpihannya

RIAK AIR DI TEPI RAWA



Kita...
Akan terus ada di sini
Di rawa hijau yang gelap lembab
Aku berada di tepi, dapat hilang dan muncul...
Kau berada di atas sana, menetes - netes dari pohon tua...

Kita...
Sama - sama air yang tak menentu arah
Tapi karena ketidakpastian itu kita bersama
Kau membuat hidup ini beriak,
Bukan karena ada batu atau daun jatuh di permukaanku,
Tapi kau menyirami setetes demi setetes darimu...
Membuat airku yang tenang, bergeming, dan menghilang kembali

Kita...
Akan terus berada di sini
Sampai musim kering menerjang dan kau menghilang
Kita aan terus bersama
Membuat riak air di tepi rawa

Jumat, 09 Oktober 2015

RANTING YANG MENGERING



Ranting yang menyapa jendelaku,
Tak lagi basah, tak lagi berembun..
Pertanda hari terus berganti

Ranting yang seakan mengetuk kacaku,
Tak lagi tersanggah, tak lagi berbunga..
Pertanda musim baru datang kembali

Tetapi kemana dirimu ?
Apa kau tidak merindu ?
Dibiarkannya ranting itu mengering menunggumu,
Diabaikannya bunga - bunga itu jatuh bagai air mataku,
Didiamkannya musim baru berpacu dengan waktu..

Ranting kering itu,
Menari ditiup angin...seperti kita menari dalam gelisah yang menjalar
Ranting kering itu,
Tenggelam ditutupi burung yang berteduh...seperti kita tenggelam dalam rindu yang indah
Ranting kering itu,
Tertunduk rapuh dan sepi...seperti kita tertunduk,tak tahu kapan lagi bertemu

Teduh..ranting itu pernah teduh
Meneduhi kita yang ada di naungannya,
Tetapi memberi hangat pada tanganmu,
Aku ingat ranting itu..
Begitu juga ranting itu mengingat kita,
Yang pernah ada di bawahnya

Biarkan ranting itu hidup kembali
Biarkan saja ranting itu berbunga lagi
Dengan itu, saat kau kembali,
Ranting itu bisa meneduhi dua hati

Bebaskan untuk menghitung hari
Bebaskanku melewati musim ini
Dengan itu, saat - saat yang kita nanti
Menjadi rasa yang tak dilupai

Ranting kering itu terus menunggu...
Entah apa itu...
Entah menunggu tumbuhnya bunga,
Menunggu patah rantingnya,
Atau menunggu kita, bersama, ada di bawahnya

Ranting itu terus menanti,
Seperti aku dan kau...
Ranting itu, dan kita..
Menanti,
Terus menanti

Senin, 05 Oktober 2015

JIKA AKU


Jika aku adalah lembayung di kala senja,
Tak ada gunanya diriku..
Engkau tak ingin melihat semburat jingga itu..
Ku tak bisa menghiasi harimu

Jika aku adalah pohon indah berbunga,
Tak ada gunanya diriku..
Engkau terus berlari dan berlari,
Tanpa lelah menghadapi penat ini...
Acuh dengan kerindangan yang kupunya
Ku tak bisa meneduhkanmu

Jika aku adalah permata yang berkilau dari jendela kaca,
Tak ada gunanya diriku..
Engkau tak ingin memiliki permata yang berkerlap - kerlip itu..
Engkau tak ingin memilikinya..
Ku tak bisa jadi berharga untukmu

Jika aku jadi angin sejuk di saat panas,
Tak ada gunanya diriku..
Engkau tak merentangkan tanganmu untuk merasakannya,
Berpikir itu adalah angin lalu,
Kau tak membutuhkannya
Ku tak bisa menyejukkanmu

Jika aku jadi hujan di tengah kekeringan,
Tak ada gunanya diriku..
Engkau tak ingin berlari menghampiri rintik - rintik hujan itu..
Berdiam diri di bawah naunganmu
Ku tak bisa jadi kebahagiaanmu

Jika aku jadi sesuatu,
Tak pula ada guna diriku..
Engkau tak ingin menatapnya
Mungkin ku harus sadari,
Biarpun ku terus ada,
Engkau tak peduli..

Jika aku...
Menghilang diterpa bumi..
Mungkinkah ku engkau cari ?

Senin, 28 September 2015

GAMBIR 9 PAGI



Gambir , 9 pagi
Denting jam stasiun berbunyi
Menghantui kita sejak tadi

Pilihan yang membelenggu,
Menggerakan dirimu ke gerbong kereta
Dunia membawamu,
Membawa dirimu ke tempat bersuka
Waktu berlalu,
Seiring cepatnya kau tak bertanda

Tanganku masih merasa hangat akan genggamanmu
Tetapi tubuhku kaku,
Menatap keramaian,
Mendengar kegaduhan,
Yang bukan dari gerak atau ucapmu

Gambir, 10 pagi
Engkau sudah pergi
Meninggalkan langit yang temaram, dan alunan yang terdengar sendu
Mengisyaratkan sesuatu,
Aku ingin mencintaimu dari jauh,
Memastikan mentari menyinarimu
Membuat bulan tersenyum padamu
Aku ingin mencintaimu dari jauh,
Memastikan angin mengirim kata rindu
Membuat burung bernyanyi saat kau buka matamu

Aku ingin mencintaimu dari jauh,
Aku ingin....

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
22 Juni 2015, Gambir , 9 Pagi...ia pergi, benar - benar pergi



Sabtu, 12 September 2015

TAKDIR MEMPERTEMUKAN



Kita hanya boneka
Dikendalikan oleh tangan - tangan di atas
Tak bisa melawan takdir,
Tak tahu kapan terhenti

Kita hanya penyebrang jalan,
Yang berjalan ke arah berlawanan
Tetapi kita terhenti,
Saat saling berhadap - hadapan
Dingin, kaku pertama,
Namun perlahan salah satu dari kita,
Mengikuti arah yang sama

Ya,kita tak bisa melawan takdir
Takdir kita untuk bertemu
Seakan kita akan bepergian untuk selamanya
Seakan takdir membelenggu kita
Seakan waktu terlelap saat kau ada

WAKTU



Waktu berlari dan berlalu
Tak peduli saat senang atau kelabu
Secepat - cepatnya pergi, 
kadang sekilas, 
kadang seperti seribu tahun
 Waktu berlari dan berlalu
Meninggalkan keramaian - keramaian
Sedih, ditinggal pergi oleh kegembiraan
Gembira, setelah menunggu kepastian
Waktu berlari dan berlalu
Ada yang membuangnya jauh - jauh,
Ada yang masih mendekapnya erat,
Ada yang meratapi kepergiannya,
Ada yang berbalik muka

Waktu berlari dan berlalu
Lari membawa semua serpih kenangan,
Yang masih tersisa dan melekat padanya

Waktu berlari dan berlalu
Menyertakan gambaran air mata dan luka,
Serta senyum dan tawa

Waktu,
Akan selalu ada,
Lalu pergi entah kemana