Jumat, 09 Oktober 2015
RANTING YANG MENGERING
Ranting yang menyapa jendelaku,
Tak lagi basah, tak lagi berembun..
Pertanda hari terus berganti
Ranting yang seakan mengetuk kacaku,
Tak lagi tersanggah, tak lagi berbunga..
Pertanda musim baru datang kembali
Tetapi kemana dirimu ?
Apa kau tidak merindu ?
Dibiarkannya ranting itu mengering menunggumu,
Diabaikannya bunga - bunga itu jatuh bagai air mataku,
Didiamkannya musim baru berpacu dengan waktu..
Ranting kering itu,
Menari ditiup angin...seperti kita menari dalam gelisah yang menjalar
Ranting kering itu,
Tenggelam ditutupi burung yang berteduh...seperti kita tenggelam dalam rindu yang indah
Ranting kering itu,
Tertunduk rapuh dan sepi...seperti kita tertunduk,tak tahu kapan lagi bertemu
Teduh..ranting itu pernah teduh
Meneduhi kita yang ada di naungannya,
Tetapi memberi hangat pada tanganmu,
Aku ingat ranting itu..
Begitu juga ranting itu mengingat kita,
Yang pernah ada di bawahnya
Biarkan ranting itu hidup kembali
Biarkan saja ranting itu berbunga lagi
Dengan itu, saat kau kembali,
Ranting itu bisa meneduhi dua hati
Bebaskan untuk menghitung hari
Bebaskanku melewati musim ini
Dengan itu, saat - saat yang kita nanti
Menjadi rasa yang tak dilupai
Ranting kering itu terus menunggu...
Entah apa itu...
Entah menunggu tumbuhnya bunga,
Menunggu patah rantingnya,
Atau menunggu kita, bersama, ada di bawahnya
Ranting itu terus menanti,
Seperti aku dan kau...
Ranting itu, dan kita..
Menanti,
Terus menanti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar